For Indonesians born after 2001, the "Perang Sampit" is just a footnote in a history textbook. For the Madurese who lost 450+ family members and the Dayak who still carry the spiritual burden of Ngayau (headhunting), it is a living trauma.
yang mencatat peristiwa di Kalimantan Tengah tersebut. Informasi mengenai koleksi ini dapat ditemukan di katalog perpustakaan seperti University of Wisconsin-Madison Video Dokumentasi Lokasi video dokumenter perang sampit exclusive
" ( YouTube Link ): This piece revisits the tragic events of February 18–21, 2001. It covers the mass displacement of people and the lasting impact on the Mentaya River, which became a grim landmark of the violence. Makam Masal Tragedi Sampit For Indonesians born after 2001, the "Perang Sampit"
. Exclusive documentary footage and archives often highlight the following key aspects of the conflict: Origins and Triggers Transmigration Context Informasi mengenai koleksi ini dapat ditemukan di katalog
“Kami tidak punya pilihan lain selain melawan untuk melindungi keluarga dan tanah kami,” ungkap seorang warga Dayak yang menjadi korban selamat.
Pada tahun 2001, Indonesia digegerkan oleh sebuah konflik yang sangat memilukan, yaitu Perang Sampit. Konflik ini terjadi antara suku Dayak dan Madura di Sampit, Kalimantan Tengah. Perang yang berlangsung selama beberapa hari ini menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Untuk mengungkap tabir di balik kejadian tersebut, kami telah menciptakan sebuah dokumenter eksklusif yang akan membawa Anda kembali ke saat-saat kritis tersebut.
Major Indonesian news networks (such as SCTV, RCTI, Kompas TV ) and international outlets produced documentaries shortly after the events.